Aku tertawa dalam lara...
Aku tersenyum dalam luka...
Rasa sakit yang terpendam...
Tak pernah sirna...
Terjebak dalam kelam masalalu...
Menari-nari dalam imaji...
Aku berjalan dalam gelap...
Aku menari dalam getir...
Terlihat gagah....
Terlihat tegar....
Tanpa rasa sakit...
Hati yang rapuh....
Jiwa yang hampa...
Aku hadapi...
Terpaksa aku jalani...
Selasa, 10 Februari 2015
Kamuflase
Sabtu, 07 Februari 2015
#testimoni
Dendam itu tidak harus dibalas dengan kekerasan/kutukan langsung terhadap sang objek. Dendam itu bisa dibalaskan dengan pembuktian diri.
Propaganda setengah hati
Arus propaganda tidak akan pernah mati,
Selama nyawa eksistensi masih ada.
Propaganda akan tetap ada,
ketika perjuangan belum terhenti.
Adalah kilatan semangat...
Hujaman kata-kata....
Dan gerak langkah,
Secarik bait lagu,
Puisi perlawanan,
Untuk membakar propaganda.
Arus perlawanan...
Kekuatan mafia uang...
Berbalut politik kekuasaan...
Yang akan menduduki propaganda ini.
Analisa diatas kertas dan kata-kata,
Sedetik membunuh nafas propaganda.
Semua bicara....
Bicara propaganda...
Propaganda apa?
Akhirnya semua tergerus arus........
Kamis, 05 Februari 2015
Dalam kenangan
Ketika aku mengagumi sang rembulan...
Indah sinarnya...
Sejuk cahayanya...
Tapi dia cuma satu...
Dan perlahan-lahan lenyap.
Lenyap seiring sang waktu.
Tak ada yang abadi...
Hanya kenangan...
Kenangan bersama sang rembulan...
Abadi dalam waktu.
Berhembus disela sang waktu.
Terpatri dalam detik desahan angin.
Kadang menyiksa...
Kadang menghibur.
Senin, 02 Februari 2015
Peranan dan keadilan
Setiap peranan ada batasnya....
Tidak ada yang abadi...
Semua memiliki jalannya masing-masing.
Ketika diujung peranan itu...
Adalah keikhlasan jawabannya.
Tidaklah mudah...
Terlebih peranan yang menyakitkan.
Tapi apa daya...
Tidak ada yang abadi.
Semua sudah diatur.
Bagaikan terapung dalam lautan.
Terombang ambing mencari jawaban.
Gesekan nurani berbenturan.
Diujung belati yang telah tumpul.
Hanya bisa menyaksikan...
Tak bisa melawan...
Hidup adalah kebahagiaan...
Hidup adalah kutukan...
Bahagia bagi yang beruntung.
Kutukan bagi yang kurang beruntung.
Kadang peranan ini tak adil...
Tapi demi sang pencipta....
Berusaha untuk ikhlas...
Berusaha seakan ini adil.
Berharap sang maha adil...
Memang benar-benar adil.
Sabtu, 31 Januari 2015
Diluar logika
Keberuntungan...
Kesialan...
Kebahagiaan...
Kesedihan...
Bagai mata rantai...
Tak terputus...
Ada porsinya...
Emosi terhempas logika...
Ketika kesialan menguasai...
Tak ada yang dipersalahkan.
Hanya diri sendiri.
Karna sudah menjadi bagian.
Tuhan???
Siapa dia??
Pun tak pernah bisa dimengerti.
Hanya bisa menerima....
Rencana pun terhempas...
Jika sudah palu takdir bicara.
Kamis, 29 Januari 2015
Aku bertanya
aku terhayut dalam nadi fakta. Tenggelam dalam emosi dan kekecewaan. Memastu Tuhan. Seluruh tubuh ini selalu bertanya. Siapa yang harus disalahkan. Seperti patung yang tidak bisa bergerak. Aku hanya bisa menjadi budak. Budak takdir, budak kehidupan, budak tuhan. Sang iblis pun tetap bahagia, tertawa menikmati kemewahan instan duniawi. Menjual tubuh dan logika hanya untuk kemewahan dan cinta semu. Entah kapan karma menyapanya.