militansi organisasi...
bergerak bersatu...
bernahkoda argumentasi...
melibas jajaran arogansi...
melukis sejarah perlawanan...
yang terpatri abadi.
militansi organisasi...
kini dibungkam ego...
diikat kepentingan...
tak bernyali ...
tunduk akan arogansi...
doktrin dikikis habis...
Yang tersisa hanya retorika semu.
Lobi-lobi basi.
Adalah realita sehari-hari.
Dan akhirnya tunduk...
dalam sistem kepentingan sepihak.
bukan salah jaman.
karna militansi tak mengenal jaman.
adalah roh militansi yang mati suri.
akan ego individu...
akan kongsi pembodohan...
akan pengakuan jati diri dan kelompok...
maka jembatan militansi itupun putus,
dan berakhir dalam ukiran sejarah.
Militansi organisasi...
kini mati suri...!!!
Kamis, 25 Februari 2016
Militansi Organisasi Mati Suri
Rabu, 24 Februari 2016
meraba asa
jalan ini tak pernah lurus
arah ini selalu tak menentu
aku ikuti alur ini
tanpa pijakan
hanya meraba asa
yang terjebak dalam angan
aku lumpuh melawan realita
kerdil dibawah harapan
busung dada ini tak berguna
hanya menjadi kamuflase
akan gundah yang berkecamuk
aku hanya bayangan
akan mimpi-mimpi
langkahku diantara hidup dan mati
Senin, 08 Februari 2016
Tanpa Paksaan
Biarkanlah benih perlawanan itu tumbuh tanpa paksaan...
Biarkanlah dia bersemayam alami...
Agar menjadi jembatan doktrinisasi yang abadi....
Dari generasi ke generasi yang kritis berkelanjutan...
Tidak hanya mementingkan kuantitas yang instan....
Tapi dengan kualitas yang terarah....
Bergerak disetiap waktu dan jaman....
Masuk ke semua lini...
Selasa, 22 Desember 2015
IBU
Kasihmu tak terbantahkan
Lelahmu tak terbayarkan
Bahkan nyawa ini takkan mampu...
Membalas pengorbananmu
Air mata yang kau teteskan
Kesabaranmu yang tak ada batasnya
Kecemasanmu...
Peluhmu...
Rasa laparmu...
Semangatmu...
Pujianmu...
IBU
Aku kotor tanpamu
Aku bukan apa-apa tanpamu.
Rasa sesak didada
Akan slalu abadi
Ketika aku tidak berguna bagimu
Ketika aku melontarkan amarah padamu
IBU
Bait dan sajak tak akan cukup...
Tak akan cukup melukiskan...
Kebaikan dirimu...
Ketulusan dirimu..
IBU
Neraka akan aku huni
Untuk menebus dosa dosamu.
Karmu aku akan pangku
Aku menjunggungmu menjadi
Malaikat yang sempurna.
IBU
Terima kasih untuk segala-galanya.
Rabu, 23 September 2015
Lalai
Tinggi egoku
Amarah nadaku
Aku tak peduli luka hati
Tak mengenal dosa
Aku selalu benar
Salah bukan diriku
Melangkahi waktu
Terus menerus seperti terbius.
Tanpa sadar
Dosa pun terus tercipta.
Aku lalai
Berkawan emosi
Sungguh aku lalai
Emosi ini
Ego ini
Hampir menghancurkan segalanya.
Jumat, 24 Juli 2015
Aku terima
Aku larut dalam duka
Bisu dengan lara.
Trauma di jiwa
Melekat dalam dada.
Semua seperti fatamorgana
Kamuflase tak terlepaskan.
Langkah terhenti...
Akan tajamnya rindu.
Aku rapuh
Tergerus menghilang
Seperti debu kremasi
Yang akan selalu dikenang.
Tatapan kosong ini
Konflik hati ini
Adalah nyata dihidupku...
Bahagia tertawa
Angan terpuaskan
Adalah bagian semu dihidupku
Alam bawah sadarpun berkata
Terima kasih atas semua ini.
Akan kunikmati
Akan aku ladeni
Semua pahit ini.
Rabu, 22 Juli 2015
Budak dari takdir
Ketika bintang itu tak dapat ku raih...
dan semakin menjauh...
Maka akan aku biarkan dia menjauh...
Tak akan aku raih lagi...
Aku hanya cukup melihatnya saja...
Melihatnya dari kejauhan...
Mengagumi keindahannya dari kejauhan.
Bintang itu hanya cukup aku kagumi...
Tanpa harus menggapainya.
Bukan tanpa alasan...
Tapi tidak layak untuk melawan takdir.
Antitesis dari takdir utk memiliki bintang.
Percuma melawan...
Karna aku bukan sang penentu takdir.
Aku hanyalah budak takdir...
Budak dari takdir...!!!