Kamis, 06 Juli 2017

testimoni

ketika Politik dan Berpolitik hanya dipakai untuk mencari uang, maka didalam prosesnya hanya ada pencitraan semata.

Selasa, 28 Februari 2017

Sampai Keyakinan Ini Runtuh

Sampai keyakinan ini runtuh
aku akan terus berjalan
berjalan dengan sisa nafasku.
Sampai keyakinan ini runtuh
aku akan terus menjalankan peranku
dengan bayang-bayang masalalu
dengan siksaan keadaan.
Sampai keyakinan ini runtuh
aku akan terus memujamu
memuja setiap ajaranmu
berharap ada jawaban
Dan sampai keyakinan ini runtuh
runtuh akan lamanya jawabanmu
runtuh akan hancurnya pondasi nalar
runtuh akan aku yang berkeyakinan terhadapmu....!!!

Kamis, 23 Juni 2016

Kisah dibalik lapas

Pagi ini....
Masih disini
Ditempat suram ini
Masih pagi yang sama
Pagi yang dengan harapan
Harapan pergi dari tempat ini
Pagi ini...
Hanya menatap terali
Membayangkan kebebasan

Rabu, 20 April 2016

Kesatria

Kesatria....
Bukan berarti harus melawan,
Tidak selalu harus menyerang.
Kesatria....
Tidak selalu harus menang,
Tidak selalu harus didepan.
Kesatria....
Adalah lebih menerima keadaan,
Lebih untuk tau diri,
Tau diri antara layak dan tidak,
Pantas atau tidak,
Untuk mendapatkan...
Untuk mempertahankan...
Kesatria...
Adalah lebih merelakan...
Melepaskan...
Akan hal yang tak layak untuk dimiliki.
Kesatria...
Adalah berani menerima keadaan diri.
Kuat tersenyum walaupun tersakiti.
Berdiri tegak akan keadaan yang tak berpihak.
Kesatria....
Berani sendiri meskipun sepi.

Selasa, 08 Maret 2016

Hening ini

hening ini tak bermakna...
karna begitu banyak suara...
suara akan kegundahan...
tak tersentuh seperti bayangan.
hening ini berseteru...
melawan waktu...
mengukir satu persatu kejadian...
hening ini selalu sendiri...
terulang sendiri...
dan selalu sendiri...
hening ini adalah hari ini...
waktu ini...
dan apakah terulang lagi?
terulang seperti ini?
Hening nanti...
Berharap tidak seperti ini...

Kamis, 25 Februari 2016

Militansi Organisasi Mati Suri

militansi organisasi...
bergerak bersatu...
bernahkoda argumentasi...
melibas jajaran arogansi...
melukis sejarah perlawanan...
yang terpatri abadi.
militansi organisasi...
kini dibungkam ego...
diikat kepentingan...
tak bernyali ...
tunduk akan arogansi...
doktrin dikikis habis...
Yang tersisa hanya retorika semu.
Lobi-lobi basi.
Adalah realita sehari-hari.
Dan akhirnya tunduk...
dalam sistem kepentingan sepihak.
bukan salah jaman.
karna militansi tak mengenal jaman.
adalah roh militansi yang mati suri.
akan ego individu...
akan kongsi pembodohan...
akan pengakuan jati diri dan kelompok...
maka jembatan militansi itupun putus,
dan berakhir dalam ukiran sejarah.
Militansi organisasi...
kini mati suri...!!!

Rabu, 24 Februari 2016

meraba asa

jalan ini tak pernah lurus
arah ini selalu tak menentu
aku ikuti alur ini
tanpa pijakan
hanya meraba asa
yang terjebak dalam angan
aku lumpuh melawan realita
kerdil dibawah harapan
busung dada ini tak berguna
hanya menjadi kamuflase
akan gundah yang berkecamuk
aku hanya bayangan
akan mimpi-mimpi
langkahku diantara hidup dan mati

Senin, 08 Februari 2016

Tanpa Paksaan

Biarkanlah benih perlawanan itu tumbuh tanpa paksaan...
Biarkanlah dia bersemayam alami...
Agar menjadi jembatan doktrinisasi yang abadi....
Dari generasi ke generasi yang kritis berkelanjutan...
Tidak hanya mementingkan kuantitas yang instan....
Tapi dengan kualitas yang terarah....
Bergerak disetiap waktu dan jaman....
Masuk ke semua lini...

Selasa, 22 Desember 2015

IBU

Kasihmu tak terbantahkan
Lelahmu tak terbayarkan
Bahkan nyawa ini takkan mampu...
Membalas pengorbananmu
Air mata yang kau teteskan
Kesabaranmu yang tak ada batasnya
Kecemasanmu...
Peluhmu...
Rasa laparmu...
Semangatmu...
Pujianmu...
IBU
Aku kotor tanpamu
Aku bukan apa-apa tanpamu.
Rasa sesak didada
Akan slalu abadi
Ketika aku tidak berguna bagimu
Ketika aku melontarkan amarah padamu
IBU
Bait dan sajak tak akan cukup...
Tak akan cukup melukiskan...
Kebaikan dirimu...
Ketulusan dirimu..
IBU
Neraka akan aku huni
Untuk menebus dosa dosamu.
Karmu aku akan pangku
Aku menjunggungmu menjadi
Malaikat yang sempurna.
IBU
Terima kasih untuk segala-galanya.

Rabu, 23 September 2015

Lalai

Tinggi egoku
Amarah nadaku
Aku tak peduli luka hati
Tak mengenal dosa
Aku selalu benar
Salah bukan diriku
Melangkahi waktu
Terus menerus seperti terbius.
Tanpa sadar
Dosa pun terus tercipta.
Aku lalai
Berkawan emosi
Sungguh aku lalai
Emosi ini
Ego ini
Hampir menghancurkan segalanya.

Jumat, 24 Juli 2015

Aku terima

Aku larut dalam duka
Bisu dengan lara.
Trauma di jiwa
Melekat dalam dada.
Semua seperti fatamorgana
Kamuflase tak terlepaskan.
Langkah terhenti...
Akan tajamnya rindu.
Aku rapuh
Tergerus menghilang
Seperti debu kremasi
Yang akan selalu dikenang.
Tatapan kosong ini
Konflik hati ini
Adalah nyata dihidupku...
Bahagia tertawa
Angan terpuaskan
Adalah bagian semu dihidupku
Alam bawah sadarpun berkata
Terima kasih atas semua ini.
Akan kunikmati
Akan aku ladeni
Semua pahit ini.

Rabu, 22 Juli 2015

Budak dari takdir

Ketika bintang itu tak dapat ku raih...
dan semakin menjauh...
Maka akan aku biarkan dia menjauh...
Tak akan aku raih lagi...
Aku hanya cukup melihatnya saja...
Melihatnya dari kejauhan...
Mengagumi keindahannya dari kejauhan.
Bintang itu hanya cukup aku kagumi...
Tanpa harus menggapainya.
Bukan tanpa alasan...
Tapi tidak layak untuk melawan takdir.
Antitesis dari takdir utk memiliki bintang.
Percuma melawan...
Karna aku bukan sang penentu takdir.
Aku hanyalah budak takdir...
Budak dari takdir...!!!

Minggu, 17 Mei 2015

Apa...

Mencari tanpa lelah...
Kemana arah hidup ini...
Walau diam sejenak...
Alam bawah sadar slalu bertanya...
Apa makna dari semua ini....
Semua masih meraba raba...
Tp pedih dan sakit ini nyata...
Bukan tafsir atau hayalan...
Jamah alam dan fana...
Masih pun aku bertanya...
Tunduk kah aku dengan takdir?
Berusaha tidak...
Aku ingin mengenal nahkoda hidup ini...
Apa maunya...

Rabu, 06 Mei 2015

Sapa senyum sang mentari

Sapa senyum sang mentari...
Mewarnai bumi...
Menandai pertarungan dimulai...
Jejak langkah yang tak pasti...
Mencari arti hidup ini...
Sapa senyum sang mentari...
Mengiringi tanya ini...
Apa arti hidup ini...
Riuh rendah euforia fana...
Bertahan dalam asa...
Menembus hirarki takdir...
Sapa senyum sang mentari...
Menjadi misteri...
Sampai kapan akan menikmati...

Rabu, 22 April 2015

Abadimu

Sayatan luka yang kau buat ini akan selalu abadi...
Mengikis waktu... menembus arus jaman...
malam yang sepi seolah menertawaiku...
terus tertawa akan kekalahanku...
Siksa kamuflase sungguhpun menyayat...
Antara dendam dan cinta berjalan beriringan...
Putih dan hitam dalam ruang kosong...
Tergambar sosokmu selalu...
Cerita yang akan slalu abadi...
Sampai mati...

Selasa, 14 April 2015

Di tubuh ini

Di tubuh ini
Aku sandarkan cita-cita
Di tubuh ini
Aku tumbuhkan harapan
Di tubuh ini
Aku melawan dunia
Di tubuh ini
Aku memasrahkan takdir
Di tubuh ini
Aku sisipkan kenangan
Aku sisipkan angan
Aku sisipkan kekecewaan
Ditubuh ini pula
Aku menunggu panggilanMU

Minggu, 01 Maret 2015

Testimoni

Manusia yang utuh adalah ketika dia bisa bermanfaat bagi orang lain.

Selasa, 24 Februari 2015

Ada masanya

Ada masanya...
Dikala bahagia...
Kita akan melupakan kesepian...
Dikala sepi...
Kita akan merindukan kebahagiaan.
Pasang surut kehidupan...
Semua pasti ada masanya.
Terlena akan suka...
Lupa akan duka.
Terjebak dalam duka...
Terbayang bayang akan suka.
Sungguh hidup ini berwarna.
Nikmati duka...
Kemunafikan pun merasuk.
Menyeimbangkan suka...
Rasa syukur pun terlupakan.
Derita dan bahagia adalah saudara.
Hidup dan mati adalah waktu.

Jumat, 13 Februari 2015

Menggenggam alur takdir

Biarkanlah kesepian ini merasuk...
Maka jiwa ini akan kebal akan angan...
Biarkanlah duka ini menyatu...
Maka hati ini akan lupa akan harapan...
Biarkanlah dendam ini merasuk...
Agar asa ini terpelihara...
Biarkanlah kebencian ini menghentak...
Agar cinta ini terbunuh...
Biarkanlah urat kesetiaan ini putus...
Agar terkubur dengan masalalu...
Belati karma ini harus menikam...
Menikam sang objek...
Sang maha takdir harus bergerak.
Jika tidak....
Maka aku tidak akan pernah percaya.
Belati karma akan aku tikam sendiri.
Mengoyak perut sang objek.

Selasa, 10 Februari 2015

Kamuflase

Aku tertawa dalam lara...
Aku tersenyum dalam luka...
Rasa sakit yang terpendam...
Tak pernah sirna...
Terjebak dalam kelam masalalu...
Menari-nari dalam imaji...
Aku berjalan dalam gelap...
Aku menari dalam getir...
Terlihat gagah....
Terlihat tegar....
Tanpa rasa sakit...
Hati yang rapuh....
Jiwa yang hampa...
Aku hadapi...
Terpaksa aku jalani...